Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Cuba akan menjadi fokus selanjutnya setelah Iran. Dalam sebuah wawancara telepon dengan CNN pada 6 Maret, Trump memprediksi bahwa pulau komunis yang terbelenggu oleh blokade energi AS akan “jatuh dalam waktu dekat”.
“Mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” tutur Trump, menambahkan bahwa setelah menyelesaikan masalah di Iran, perhatian akan beralih ke Cuba yang telah mengalami krisis selama lebih dari 50 tahun. “Kita benar-benar fokus pada yang ini sekarang. Kita punya banyak waktu, tetapi Cuba sudah siap,” lanjutnya, menunjukkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan menjadi orang kunci dalam kebijakan Cuba.
Baik Trump maupun Rubio, yang merupakan anak imigran Kuba, telah mengungkapkan keinginan mereka untuk mengubah rezim di Havana, menyusul keberhasilan mereka dalam menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. Hal ini menandakan upaya lebih lanjut AS untuk mengendalikan situasi politik di kawasan Karibia.
Kunjungan Pejabat AS ke Havana
Baru-baru ini, Koordinator Urusan Cuba dari Departemen Luar Negeri AS, Rob Allison, mengadakan pertemuan dengan perwakilan senior Gereja Katolik di Havana. Meski tidak menyebutkan kapan tepatnya pertemuan tersebut berlangsung, Kedutaan Besar AS di Havana memposting gambar pertemuan tersebut di akun X mereka.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas bantuan kemanusiaan yang dikirim dari Washington ke Cuba dan pentingnya adanya perubahan untuk meningkatkan situasi di pulau tersebut. Ini menunjukkan bahwa AS berusaha untuk berinteraksi lebih aktif dengan pihak-pihak di Cuba dalam mencari solusi atas krisis yang berkepanjangan.
Blokade Energi yang Melumpuhkan
Trump telah berkali-kali menyatakan keyakinannya bahwa rezim Cuba sudah dalam kondisi rentan. Untuk mempercepat kejatuhannya, Amerika Serikat memberlakukan blokade energi yang telah berakibat fatal. Sejak 9 Januari, Cuba tidak menerima pengiriman minyak sama sekali, yang memaksa maskapai penerbangan untuk menghentikan atau membatasi penerbangan ke pulau tersebut dan memperburuk krisis ekonomi yang telah berlangsung lama.
Kuba menuduh Trump berusaha untuk “menghancurkan” ekonomi mereka. Sejak embargo perdagangan yang dimulai pada tahun 1962, Cuba telah terjebak dalam krisis parah yang ditandai dengan pemadaman listrik berkepanjangan serta kekurangan bahan bakar, obat-obatan, dan makanan.
Walaupun baru-baru ini AS sedikit melonggarkan blokade minyaknya untuk memungkinkan perusahaan swasta di Cuba mengimpor sejumlah kecil minyak, dampak dari kebijakan ini masih sangat terasa. Pada 4 Maret, dua pertiga wilayah Cuba mengalami pemadaman listrik setelah kerusakan di pembangkit listrik terbesar di pulau tersebut, yaitu Pembangkit Listrik Antonio Guiteras. Meskipun sebagian besar rumah tangga kini telah mendapatkan kembali pasokan listrik, situasi tetap kritis.
Peran Gereja Katolik
Gereja Katolik sebelumnya telah berperan sebagai mediator antara Washington dan pemerintah Cuba. Paus Fransiskus pernah berhasil menengahi pemulihan hubungan diplomatik antara Cuba dan AS pada tahun 2015 di bawah kepemimpinan Presiden Barack Obama, setelah masa ketegangan yang panjang. Vatican juga berperan dalam negosiasi antara Havana dan mantan presiden AS, Joe Biden, yang berujung pada pembebasan ratusan tahanan politik di Cuba sebagai imbalan atas penghapusan nama Cuba dari daftar negara sponsor teror.
Namun, pada hari pertama kembali menjabat pada Januari 2025, Trump mengembalikan Cuba ke dalam daftar negara tersebut. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hubungan antara AS dan Cuba akan terus diwarnai dengan ketegangan dan konflik kepentingan.
Kesimpulan
Menghadapi ancaman baru dari pemerintahan Trump, Cuba harus bersiap menghadapi tantangan lebih lanjut. Dengan adanya blokade yang semakin ketat dan upaya untuk menggulingkan rezim, masa depan politik dan ekonomi Cuba tampak semakin suram. Menarik untuk melihat bagaimana situasi ini akan mempengaruhi hubungan internasional, termasuk dampaknya bagi Indonesia yang turut merasakan dampak dari kebijakan luar negeri AS.