Jakarta, CNBC Indonesia – Maroko mengambil langkah signifikan dengan menamai salah satu jalan raya terbesarnya, Jalan Tol Tiznit-Dakhla, dengan nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Langkah ini dianggap sebagai bentuk penghargaan bagi peran Trump dalam memperkuat hubungan bilateral antara Maroko dan AS.
Raja Mohammed VI memberitahukan keputusan ini melalui surat yang dilaporkan oleh Moroccan News Agency (MAP) pada Minggu lalu. Dalam surat tersebut, raja menyatakan bahwa jalan tol sepanjang 1.055 kilometer ini akan dikenal sebagai “Donald J. Trump Highway”.
Raja Mohammed menekankan bahwa hubungan Maroko dan AS, yang selama ini didasarkan pada persahabatan dan kesetiaan, telah berkembang menjadi lebih dinamis dan saling menguntungkan selama masa jabatan Trump. Ia mengungkapkan, “Pengakuan bersejarah Anda pada tahun 2020 tentang kedaulatan Maroko atas Sahara Barat akan selalu diingat oleh rakyat Maroko dari generasi ke generasi.” Pernyataan ini mencerminkan rasa terima kasih yang mendalam dari Maroko atas dukungan Trump dalam isu kedaulatan wilayah tersebut.
Dalam menanggapi penghargaan ini, Trump mengungkapkan rasa terima kasihnya melalui unggahan di platform Truth Social miliknya. Ia menyebutkan bahwa penamaan jalan tersebut merupakan sebuah kehormatan besar, serta mengungkapkan harapannya untuk dapat melintasi seluruh rute jalan tersebut.
Jalan tol ini menghubungkan kota Tiznit di Maroko selatan dengan Dakhla yang terletak di wilayah sengketa Sahara Barat. Jalur ini melewati rute Guelmim dan Laayoune di sepanjang pesisir Atlantik. Maroko mengklaim Sahara Barat sebagai bagian dari wilayahnya dan mengambil alih kontrol atas sebagian besar bekas koloni Spanyol setelah Spanyol menarik diri pada tahun 1975. Namun, Front Polisario yang didukung oleh Aljazair berjuang untuk mendirikan negara Sahrawi yang merdeka.
AS menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat saat Trump menjabat pada tahun 2020. Hubungan perdagangan antara kedua negara juga sangat kuat, dengan nilai ekspor AS ke Maroko dilaporkan mencapai USD 5,50 miliar (sekitar Rp 88 triliun) pada tahun 2025.
Namun, keputusan untuk mengganti nama jalan tol ini tidak lepas dari kritik. Western Sahara Resource Watch, sebuah kelompok advokasi, mengecam langkah ini sebagai upaya untuk mendukung ego Trump, bukan untuk mempromosikan perdagangan dengan AS. Roberto Cantoni, perwakilan kelompok tersebut, menyatakan, “Langkah ini tidak untuk mendorong perdagangan, tetapi lebih untuk meningkatkan citra presiden.” Sementara itu, Aljazair, yang mendukung Front Polisario, belum memberikan tanggapan resmi mengenai isu ini, meskipun media Aljazair, El Watan, menganggap Maroko telah mengorbankan diplomasi demi pujian kepada Trump.
Maroko, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadi sorotan dalam konteks hubungan internasional ini. Sekitar 99% penduduknya adalah Muslim, sebagian besar menganut Islam Sunni dengan mazhab Maliki. Penamaan jalan ini menunjukkan bagaimana politik internasional dapat berinteraksi dengan identitas dan budaya lokal.