Ilustrasi serangan energi di Iran dan dampaknya

Serangan Energi Iran Ditunda, Namun Infrastruktur Sudah Hancur

WASHINGTON – Perintah Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik di Iran memberikan sedikit waktu untuk bernapas bagi negara tersebut. Namun, serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel telah menghancurkan infrastruktur penting dan memicu kemarahan masyarakat, bahkan di antara rakyat Iran yang menentang pemerintah mereka.

Trump dan pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, terkadang menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintah mereka, tetapi serangan yang dilakukan justru semakin membuat marah rakyat Iran yang sudah berjuang menghadapi biaya konflik yang menghancurkan. Serangan ini juga menuai kritik internasional.

Ketua Komite Internasional Palang Merah, Mirjana Spoljaric, memperingatkan pada 23 Maret bahwa “apa yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir di Timur Tengah berisiko mencapai titik tanpa kembali.” Ia menegaskan, “Serangan terhadap infrastruktur esensial adalah serangan terhadap warga sipil. Ini harus dihentikan. Setiap upaya untuk meredakan ketegangan sangat penting.”

Kondisi di Iran dan Serangan yang Terjadi

Di tengah malam dari 22 hingga 23 Maret, beberapa bagian ibu kota, Teheran, terbenam dalam kegelapan. Penyebab pemadaman listrik tersebut belum jelas, namun Israel sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka akan menargetkan infrastruktur kota tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pada 21 Maret, serangan di Andimeshk, Iran barat daya, merusak rumah sakit satu-satunya di kota tersebut, menurut media Iran. Selain itu, serangan pada 18 Maret di ladang gas lepas pantai South Pars, yang merupakan tulang punggung pasokan energi domestik Iran, menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi di negara itu.

Serangan Israel di tempat penyimpanan bahan bakar di Teheran mengubah langit menjadi oranye dan menyelimuti ibu kota dalam asap beracun dan hujan asam. Di hari pertama perang, serangan AS di sebuah sekolah dasar untuk anak perempuan menewaskan sekitar 175 orang, sebagian besar anak-anak.

Dampak Global dan Tanggapan Iran

Ancaman Trump untuk menyerang pembangkit listrik jika Iran tidak membuka Selat Hormuz bahkan mengguncang para kritikus pemerintah yang selama ini dengan vokal mendukung kampanye AS-Israel. Reza Pahlavi, putra dari Shah yang digulingkan, mendesak AS dan Israel untuk membedakan antara menyerang rakyat Iran dan pemerintah negara tersebut, sementara aktivis Masih Alinejad meminta agar serangan tidak menyasar infrastruktur yang bergantung pada lebih dari 90 juta orang.

Omid Memarian, seorang analis senior Iran di DAWN, sebuah lembaga non-profit di Washington, menyatakan bahwa serangan tersebut mencerminkan strategi yang gagal dari Trump dan Netanyahu. Menurutnya, serangan ini “telah berhasil meyakinkan masyarakat bahwa kampanye militer bukan melawan pemerintah, tetapi melawan rakyat Iran, negara Iran, dan keberadaan mereka.”

Pada 23 Maret, Trump mengungkapkan di media sosial bahwa ia telah menunda ultimatum untuk memberikan waktu lima hari bagi negosiasi dengan Iran mengenai pengakhiran permusuhan. Namun, pejabat Iran secara terbuka menganggapnya sebagai taktik menjelang serangan AS lebih lanjut.

Iran telah mulai membalas serangan dengan menyerang fasilitas desalinasi di Bahrain setelah fasilitas desalinasi Iran diserang. Pejabat Iran memperingatkan bahwa upaya tersebut akan semakin agresif jika infrastruktur mereka diserang, yang berpotensi membuat ketegangan di kawasan semakin meningkat.

Analisis dan Kesimpulan

Esfandyar Batmanghedilij, kepala lembaga pemikir ekonomi Bourse & Bazaar Foundation, berpendapat bahwa jika Washington melanjutkan ancaman Trump, tingkat serangan bisa meningkat drastis. Ia mencatat bahwa Iran memiliki hampir 500 pembangkit listrik, dibandingkan dengan 50 di Israel. Pembangkit listrik terbesar Iran hanya menyediakan 4 persen dari total kapasitas negara tersebut, sementara pembangkit terbesar Israel menyuplai sepertiga dari energi negara itu.

“Jika Trump menyerang pembangkit listrik besar, Iran akan membalas dengan menyerang utilitas di negara-negara Teluk dan Israel – termasuk pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi – dan akan mengandalkan fakta bahwa mereka harus menyerang lebih sedikit target untuk memiliki dampak yang lebih besar,” tuturnya.

Situasi ini menjadi perhatian global, di mana keterlibatan internasional dalam konflik ini dapat mempengaruhi stabilitas kawasan yang sudah rentan, termasuk dampaknya terhadap Indonesia sebagai bagian dari komunitas internasional yang peduli akan perdamaian dan keamanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *