Pemilihan walikota di Prancis, Paris dan Marseille dalam sorotan

Pemilihan Walikota di Prancis: Paris dan Marseille dalam Sorotan

PARIS – Warga Prancis bersiap untuk memilih walikota di sejumlah kota besar, termasuk Paris dan Marseille, pada 22 Maret. Pemilihan ini menjadi penting karena memperlihatkan dinamika politik menjelang pemilihan presiden 2027, di mana partai sayap kanan berambisi untuk meraih kekuasaan setelah dua dekade di bawah kepemimpinan sosialis.

Sebanyak 35.000 desa, kota, dan wilayah di Prancis telah menyelesaikan pemilihan putaran pertama, namun sekitar 1.500 kota, termasuk pusat-pusat urban besar, harus melanjutkan ke putaran kedua. Hasil dari pemilihan ini akan memberikan gambaran tentang arah pilihan politik masyarakat Prancis.

Persaingan Ketat di Paris

Di Paris, persaingan terlihat ketat antara Emmanuel Gregoire, mantan wakil walikota sosialis Anne Hidalgo, dan Rachida Dati, mantan menteri yang kini mencalonkan diri dari partai sayap kanan. Dati, yang pernah menjabat sebagai menteri keadilan dan budaya, berambisi untuk menjadikan Paris kota yang dipimpin oleh partai kanan setelah 25 tahun di bawah kepemimpinan sosialis. Ia berharap untuk menjadi walikota perempuan kedua berturut-turut di Paris.

Dalam beberapa bulan terakhir, Dati mendapatkan momentum karena rival dari partai tengah dan sayap kanan lainnya telah mundur. Namun, Gregoire menolak untuk membentuk aliansi dengan kandidat sayap kiri lainnya, yang dapat membagi suara pemilih sosialis.

Dampak Pemilihan Lokal terhadap Politik Prancis

Pemilihan walikota ini juga sangat penting untuk memberikan petunjuk tentang suasana hati publik menjelang pemilihan presiden mendatang. Banyak pengamat politik berpendapat bahwa hasil pemilihan ini akan mencerminkan tren dukungan politik di Prancis.

Partai sayap kanan, National Rally (RN) yang dipimpin oleh Marine Le Pen, berusaha untuk meningkatkan perolehan suara dibandingkan pemilihan lokal sebelumnya. RN mengklaim bahwa mereka berhasil memenangkan kursi di 10 komune pada pemilihan sebelumnya, termasuk di Perpignan, kota terbesar yang dikuasai oleh partai sayap kanan. Kemenangan di Toulon, yang memiliki 180.000 penduduk, juga menjadi target mereka, karena jika berhasil, ini akan menjadi kota terbesar yang berada di bawah kendali RN.

Sementara itu, di Marseille, kandidat RN, Franck Allisio, meraih posisi kedua dengan selisih satu persen dari walikota incumbent, Benoit Payan. Namun, tampaknya kekuasaan di Marseille kemungkinan besar tetap berada di tangan partai kiri setelah salah satu kandidat sayap kiri memutuskan mundur.

Kesimpulan

Dengan tingkat partisipasi pemilih yang mencapai 57 persen di putaran pertama, terendah dalam pemilihan lokal selain edisi yang terpengaruh pandemi pada 2020, hasil dari pemilihan ini akan menjadi indikator penting bagi arah politik Prancis ke depan. Melihat dinamika ini, Indonesia sebagai negara yang juga menghadapi tantangan politik serupa bisa belajar dari pergeseran dukungan politik di Prancis, di mana aliansi strategis menjadi kunci dalam menghadapi ancaman dari partai ekstrem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *