MANCHESTER, New Hampshire, 9 Maret – Menjelang pemilu tengah tahun, dukungan terhadap Presiden Donald Trump dari kalangan pemuda, khususnya pria muda, mengalami penurunan. Hal ini terungkap dalam sebuah diskusi panel yang melibatkan enam mahasiswa di Saint Anselm College, yang mencoba menilai kebijakan Trump dalam periode keduanya.
Mahasiswa-mahasiswa tersebut, yang sebelumnya memberi suara untuk Trump, menunjukkan reaksi beragam, mulai dari dukungan hati-hati hingga kekecewaan. Mereka mengungkapkan bahwa kebijakan Trump, terutama dalam hal penegakan imigrasi yang dianggap terlalu keras dan kenaikan harga yang terus berlanjut, semakin membuat mereka ragu.
Pergeseran Dukungan di Kalangan Pemuda
Pada panel diskusi tersebut, Tyler Witzgall, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, mencerminkan perasaan umum temannya. Ia menilai bahwa meskipun Trump memiliki beberapa pencapaian, ia gagal dalam menangani isu-isu yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari mereka, seperti harga barang yang tinggi.
“Saya masih akan lulus dengan beban utang yang besar. Saya tidak akan bisa membeli rumah dalam waktu dekat,” ungkap Witzgall, memberikan nilai C untuk kinerja Trump, sambil mengungkapkan kekecewaannya terhadap upaya presiden dalam menangani masalah ekonomi domestik.
Menariknya, meskipun tidak ada yang menyesali pilihan suara mereka untuk Trump, mereka juga khawatir terhadap calon presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris, yang mereka anggap akan melanjutkan kebijakan imigrasi yang mereka anggap tidak terkendali.
Kritik Terhadap Kebijakan Imigrasi
Seorang mahasiswa lain, Ian Pomfret, juga menyuarakan kekhawatirannya. Ia mengkritik taktik agresif yang digunakan oleh agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) dalam penegakan hukum imigrasi. “Kasus ICE adalah masalah besar,” katanya, merujuk kepada dua warga negara AS yang tewas akibat tindakan federal di Minneapolis. “Saya merasa ada cara yang lebih baik untuk menangani masalah ini daripada dengan penggerebekan dan deportasi instan.”
Meskipun Pomfret tetap memberikan dukungan kepada Trump dengan nilai B-plus, ia tetap berharap ada perubahan dalam kebijakan yang lebih manusiawi.
Statistik Menunjukkan Penurunan Dukungan
Menurut survei yang dilakukan Reuters/Ipsos, dukungan untuk Trump di kalangan pria berusia 18-29 tahun turun menjadi 33% pada bulan lalu, dari 43% pada Februari 2025. Ini menjadi perhatian serius bagi Partai Republik, yang sebelumnya mengandalkan dukungan kuat dari kelompok pemilih ini pada pemilu 2024, di mana Trump meraih 46% suara pemuda, meningkat 7 poin dibandingkan tahun 2020.
Seorang strategis partai mencatat, meskipun dukungan pemuda terhadap Partai Republik menurun, masih ada harapan untuk memenangkan kursi di Kongres jika partai berhasil mendapatkan setidaknya 40% suara pemuda. Namun, partisipasi pemilih muda di pemilu tengah tahun seringkali rendah, dengan hanya seperempat yang memberikan suara pada tahun 2022.
Dampak pada Pemilu Mendatang
Ketidakpuasan ini berpotensi mempengaruhi hasil pemilu mendatang. Pada pemilu 2018, gelombang penembakan massal memicu partisipasi pemilih muda dan membantu Partai Demokrat merebut lebih dari selusin kursi kongres. John Della Volpe, seorang pengamat pemilih Gen Z, menyatakan, “Semua bukti dalam 15 atau 16 bulan terakhir menunjukkan bahwa kelompok ini tidak dapat diandalkan sebagai pemilih Partai Republik.”
Kesimpulan
Dengan dukungan pemuda yang semakin menipis menjelang pemilu 2024, Partai Republik dihadapkan pada tantangan besar. Kebijakan yang dianggap tidak memadai dan masalah ekonomi yang terus berlanjut menjadi perhatian utama. Ini menjadi sinyal bagi para pemimpin partai untuk mendengarkan suara pemilih muda dan beradaptasi jika ingin mempertahankan kekuasaan mereka.